Dalam rangka memperingati Dies Natalis Museum Biologi yang ke-56, museum berbagi bingkisan kepada para pedagang kaki lima (PKL) dan tukang parkir di lingkungan sekitar museum. Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 29 September 2025, sebagai bentuk apresiasi dan kepedulian terhadap komunitas lokal yang turut mendukung keberlangsungan museum sebagai ruang edukasi dan budaya. Dies Natalies ke-56 tidak hanya menjadi perayaan internal, tetapi juga momen untuk berbagi dan mempererat hubungan dengan masyarakat sekitar sebagai bagian dari ekosistem museum. Mereka membantu menciptakan kenyamanan dan aksesibilitas bagi pengunjung. Museum Biologi berharap kegiatan ini dapat memperkuat semangat kebersamaan dan menjadikan museum sebagai ruang yang inklusif, ramah, dan relevan bagi semua lapisan masyarakat.
Berita
Yogyakarta, 25 Maret 2025 Museum Biologi berpartisipasi dalam seminar bertajuk Digitalisation, Artificial Intelligence/AI, Digital Technology, Museum Presentation & Augmented Reality, 3D Technology & IT Security yang diadakan di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Acara dimulai pada pukul 08.00 WIB dan diselenggarakan oleh Museum dan Cagar Budaya bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Ceko di Jakarta.
Seminar ini diikuti perwakilan dari 18 museum di wilayah Yogyakarta, menyoroti pentingnya akses yang setara terhadap pendidikan dan berbagi pengetahuan di antara lembaga-lembaga budaya. Museum Biologi diwakili oleh Zuliyati Rohmah, S.Si., M.Si., Ph.D.Eng. (Kepala Museum Biologi) dan Ida Suryani (Petugas Pemelihara Koleksi dan Museum). Partisipasi mereka menunjukkan komitmen museum untuk merangkul kreativitas dan inovasi di tengah kemajuan teknologi yang pesat.
Tujuan utama seminar ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas pengelolaan museum dalam menghadapi tantangan digitalisasi dan teknologi informasi di era modern. Seiring dengan semakin banyaknya museum yang mengadopsi teknologi baru, kebutuhan akan akses yang setara terhadap sumber daya ini menjadi sangat penting, memastikan bahwa semua lembaga dapat memanfaatkan kemajuan dalam presentasi dan keterlibatan digital.
Dua pembicara terkemuka hadir dalam seminar ini: Michal Lukes, PhDr., Ph.D. (Kepala Museum Nasional Ceko) dan Jauhari Chusbiantoro, SS., M.A. (Ahli Museum dan Cagar Budaya). Wawasan mereka tentang integrasi teknologi digital dalam praktik museum memberikan perspektif berharga tentang bagaimana lembaga dapat memanfaatkan alat ini untuk meningkatkan pengalaman pengunjung dan jangkauan pendidikan.
Diskusi menekankan peran augmented reality dan teknologi 3D dalam menciptakan pengalaman imersif bagi pengunjung museum. Dengan menggabungkan teknologi inovatif ini, museum dapat mendorong pemahaman yang lebih dalam tentang koleksi mereka dan melibatkan audiens dengan cara yang baru dan menarik. Ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dengan mempromosikan akses pendidikan dan mendorong kreativitas serta inovasi di lembaga budaya.
Selain itu, seminar ini juga membahas pentingnya keamanan TI di era digital. Seiring dengan digitalisasi koleksi dan operasi museum, melindungi informasi sensitif menjadi sangat penting. Para pembicara menyoroti praktik terbaik untuk memastikan perlindungan data dan menjaga integritas sumber daya museum di dunia yang semakin terhubung.
Acara ini juga berfungsi sebagai platform untuk jaringan dan kolaborasi di antara para profesional museum. Peserta saling bertukar ide dan pengalaman, membangun rasa komunitas dan tujuan bersama dalam memajukan peran museum dalam masyarakat. Semangat kolaboratif ini sangat penting untuk mencapai akses yang setara terhadap sumber daya pendidikan dan mempromosikan warisan budaya.
Sebagai kesimpulan, seminar di Museum Benteng Vredeburg menandai langkah signifikan menuju pemberdayaan museum dengan pengetahuan dan alat yang diperlukan untuk berkembang di era digital. Partisipasi aktif Museum Biologi mencerminkan dedikasinya untuk merangkul perubahan dan inovasi, memastikan bahwa museum tetap menjadi sumber vital untuk pendidikan dan pelestarian budaya di Yogyakarta dan sekitarnya.
[sangar-slider id=2098]
Rabu, 22 Januari 2025 Museum Biologi menerima kunjungan mahasiswa dan dosen dari Western Sydney University. Acara ini merupakan kegiatan International Summer Schoo (ISC) yang diadakan oleh Fakultas Biologi UGM, di mana salah satu kegiatannya adalah mengunjungi museum. Kunjungan ini bertujuan untuk meningkatkan akses pendidikan dengan memberikan kesempatan unik bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan spesimen biologi dan mempelajari sejarah serta proses kurasi museum. Peserta ISC diterima oleh Donan Satria Yudha, S.Si.,M.Sc. Peserta mendengarkan pemaparan materi sejarah museum, spesimen Museum Biologi dan kurasi koleksi. Selesai materi, peserta diajak tour melihat pameran di museum dan juga melihat ruang workshop, sebagai tempat penanganan koleksi dari kegiatan pembuatan awetan sampai kegiatan konservasi. Sebelum melanjutkan kunjungan ke tempat lain, peserta ISC tidak lupa membeli souvenir Museum Biologi yang berupa awetan resin serangga dalam bentuk gantungan kunci. Selain untuk pembelajaran keanekaragaman hayati Indonesia, Museum Biologi menjadi tempat yang menarik untuk dikunjungi karena tidak hanya menyimpan koleksi Biologi, tetapi juga sejarah bangunan museum merupakan bangunan cagar budaya, eks rumah tempat tinggal opsir Belanda.
Bagi peserta, kegiatan Summer Course di Museum Biologi sarat akan nilai pembelajaran dan akademik. Melalui kegiatan ini liburan menjadi sesuatu menyenangkan sekaligus bermanfaat.
[sangar-slider id=2067]
Selama kunjungan, mahasiswa belajar tentang berbagai spesies yang berasal dari Indonesia, termasuk tanaman dan hewan yang terancam punah. Koleksi museum ini berfungsi sebagai sumber daya penting untuk memahami keanekaragaman hayati, yang sangat penting untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam bidang pendidikan berkualitas dan kehidupan di darat. Tur yang dipandu tersebut menekankan pentingnya konservasi dan peran pendidikan dalam meningkatkan kesadaran tentang keanekaragaman hayati. Petugas museum menyoroti bagaimana institusi pendidikan dapat berkolaborasi dengan museum untuk meningkatkan pengalaman belajar dan menumbuhkan apresiasi yang lebih dalam terhadap alam di kalangan mahasiswa.Selain aspek edukatif, kunjungan ini juga bertujuan untuk menginspirasi mahasiswa agar mengeksplorasi pentingnya melestarikan warisan alam Indonesia. Mahasiswa didorong untuk berpikir kritis tentang peran mereka di masa depan sebagai pendidik dalam mempromosikan kesadaran lingkungan dan praktik berkelanjutan. Kunjungan ke Museum Biologi UGM sejalan dengan SDGs dengan mempromosikan pendidikan berkualitas dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Dengan mengintegrasikan kunjungan museum ke dalam kurikulum mereka, institusi pendidikan dapat memberikan mahasiswa kesempatan belajar yang unik yang melampaui pengaturan kelas tradisional.Sebagai kesimpulan, kunjungan edukatif ke Museum Biologi UGM merupakan langkah signifikan bagi mahasiswa Universitas Insan Budi Utomo Malang. Kegiatan ini memperkuat pentingnya memahami keanekaragaman hayati dan perlunya praktik berkelanjutan dalam melestarikan sumber daya alam Indonesia. Pengalaman ini diharapkan akan memberikan dampak yang positif pada karir mereka di masa depan sebagai pendidik.
[sangar-slider id=2043]
SDGs : 4, 15
Pada tanggal 4 Desember 2024 Museum Biologi berpartisipasi dalam Pameran Museum “Bara Kumara” melalui program Eksperimen Sains Reaksi Redoks.” Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya yang berfokus pada makanan dan kesehatan. SDGs adalah seperangkat tujuan global yang memerlukan upaya kolektif untuk mencapainya. Setiap kontribusi kecil sangat berarti dalam mewujudkan tujuan ini. Generasi muda, sebagai pemimpin masa depan bangsa, memainkan peran penting sebagai agen perubahan dalam upaya ini. Dengan terlibat dalam kegiatan edukasi seperti Eksperimen Sains Reaksi Redoks, mereka dapat lebih memahami peran mereka dalam mempromosikan keberlanjutan dan kesehatan.
Eksperimen Sains Reaksi Redoks dirancang untuk memperkenalkan peserta muda pada dunia menarik reaksi kimia, khususnya reaksi redoks. Reaksi ini sangat penting dalam berbagai proses biologis, termasuk metabolisme dan kemampuan tubuh untuk melawan radikal bebas. Memahami konsep-konsep ini sangat penting untuk membentuk generasi yang menghargai sains dan aplikasinya dalam kesehatan dan nutrisi. Selain aspek ilmiah, program ini juga menekankan pentingnya mengonsumsi sayuran dan buah-buahan, terutama yang tinggi antioksidan, yang berperan signifikan dalam menetralkan radikal bebas dalam tubuh. Dengan mendidik kaum muda tentang manfaat pola makan sehat, Museum Biologi bertujuan untuk menanamkan kebiasaan seumur hidup yang berkontribusi pada kesejahteraan secara keseluruhan. Kegiatan ini berupa eksperimen langsung di mana peserta dapat mengamati reaksi redoks dengan dengan menggunakan ekstrak sayuran dan buah berwarna yang ditetesi dengan larutan asam dan basa. Pendekatan interaktif ini tidak hanya membuat pembelajaran menyenangkan tetapi juga memperkuat aplikasi praktis sains dalam kehidupan sehari-hari.
Eksperimen Sains Reaksi Redoks di Taman Budaya Embung Giwangan tidak hanya sekadar demonstrasi sains, tetapi juga langkah menuju memberdayakan generasi muda untuk mengambil peran aktif dalam kesehatan dan lingkungan mereka.
[sangar-slider id=1904]Pada hari Senin, 4 November 2024, pukul 12.00, Museum Biologi menerima kunjungan dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kunjungan ini merupakan bagian dari praktikum mata kuliah Struktur, Perkembangan, dan Fungsi Hewan. Selain itu, kunjungan ini juga menjadi program kunjungan rutin yang dirancang untuk memperdalam pengetahuan mahasiswa mengenai metode pengawetan hewan vertebrata yang telah dipelajari melalui literatur sebelumnya.
Sebanyak 39 peserta hadir dalam kunjungan ini, terdiri dari 35 mahasiswa, 2 asisten, dan 2 dosen. Mereka disambut oleh petugas pemelihara koleksi museum, FX. Sugiyo Pranoto, yang memberikan penjelasan mengenai metode pengawetan spesimen biologi. Mahasiswa diajak untuk mengamati taksidermi, rangka, dan awetan basah, serta berdiskusi mengenai jenis hewan yang akan dibuat awetan.
Kunjungan ini bertujuan untuk memberikan bekal penting bagi mahasiswa dalam pembuatan awetan pada praktikum selanjutnya. Dengan mengamati aplikasi nyata dari pengetahuan teoritis mereka, mahasiswa dapat lebih memahami seluk-beluk pengawetan biologi. Pengalaman langsung ini sangat penting dalam menumbuhkan apresiasi yang lebih dalam terhadap materi pelajaran dan meningkatkan perjalanan belajar mereka.
Selain itu, interaksi dengan staf museum memungkinkan mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan dan mengklarifikasi keraguan mengenai teknik pengawetan. Keterlibatan ini tidak hanya memperkaya pemahaman mereka tetapi juga mendorong pemikiran kritis dan rasa ingin tahu tentang ilmu biologi. Kunjungan ke museum ini mencontohkan pentingnya akses terhadap pendidikan, karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar di luar kelas.
Museum Biologi, dengan koleksi spesimen yang luas, menjadi sumber daya yang sangat berharga bagi mahasiswa yang mengejar karir di bidang biologi dan pendidikan. Dengan memfasilitasi kunjungan semacam ini, institusi pendidikan dapat menjembatani kesenjangan antara pengetahuan teoritis dan aplikasi praktis, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terkait pendidikan berkualitas dan peluang belajar sepanjang hayat.
Saat mahasiswa menjelajahi museum, mereka mengungkapkan antusiasme dan keinginan untuk menerapkan apa yang mereka pelajari dalam sesi praktikum mendatang. Pengalaman ini tidak hanya memperkuat pengetahuan akademis mereka tetapi juga menginspirasi mereka untuk melanjutkan studi dan penelitian lebih lanjut di bidang biologi.
Sebagai kesimpulan, kunjungan ke Museum Biologi merupakan langkah signifikan dalam meningkatkan pengalaman pendidikan mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi di Universitas Sanata Dharma. Kunjungan ini menyoroti pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman dan peran museum dalam menyediakan akses terhadap pendidikan. Inisiatif semacam ini sangat penting dalam membina generasi mendatang pendidik dan ilmuwan yang akan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Museum Biologi menjadi salah satu partisipan pada Pameran Bersama bertajuk “Keberagaman Koleksi Museum Nusantara” di Monumen Pers Nasional. Pameran ini resmi dibuka pada Senin, 22 Juli 2024 dan berlangsung selama 5 hari, 22 -26 Juli 2024 pada pukul 08.00 – 16.00 WIB. Adapun museum peserta pameran bersama ini adalah Museum BPK, Museum Biologi Fakultas Biologi UGM, Museum Bank Mandiri, Museum Deli Serdang, Museum Neka Art Bali, Museum Penerangan, Museum Radya Pustaka, Museum Rumah Budaya Kratonan, Museum Kretek Kudus, Museum dan Cagar Budaya, Museum Ranggawarsita, Museum Sandi, Museum Akademi Kepolisian, Museum Geologi, Museum Bank Indonesia, dan tuan rumah Museum Pers Nasional.
Pada kesempatan tersebut Museum Biologi menampilkan koleksi tengkorak hewan, yakni tengkorak kijang, babirusa, dan macan tutul. Selain itu, ada media interaktif pengamatan mikroskopis jaringan tumbuhan yang dapat dicoba oleh pengunjung pameran. Event pameran ini mendapat respon positif dari masyarakat Surakarta, khususnya sekolah-sekolah dari tingkat TK sampai mahasiswa. Hal ini dibuktikan dengan jumlah pengunjung harian yang membludak sekitar 1500 sampai 3000 orang dari estimasi target pengunjung 500 orang/hari.
Pameran tersebut merupakan agenda rutin tahunan Monumen Pers Nasional yang dilaksanakan setiap bulan Juli bertepatan dengan tahun ajaran baru. Harapannya, kegiatan pameran dapat menumbuhkan literasi dan minat berkunjung ke museum mengingat saat ini juga berbarengan dengan siswa-siswa masuk sekolah.
[sangar-slider id=1860]











