• UGM
  • Fakultas Biologi
  • Barahmus DIY
  • Dinas Kebudyaan DIY
  • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Museum Biologi
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah Singkat
    • Profil
    • Visi dan Misi
    • Struktur Organisasi
  • Koleksi
    • Koleksi Biologika
      • Hewan
      • Tumbuhan
    • Koleksi Historika
    • Koleksi Etnografi
    • Koleksi Arkeologika
  • Publikasi
  • Prosedur
  • Hewan
  • Beranda
  • Pos oleh
  • hal. 3
Pos oleh :

ida_suryani

Anjangsana Divisi Landscape Taman Wisata Candi Borobudur di Museum Biologi

Uncategorized Rabu, 13 Desember 2023

Selasa, 12 Desember 2023 Museum Biologi menerima tamu, Bapak Agus Susanta, S.E. dari Divisi Landscape Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang. Kunjungan ini diterima oleh Bapak Soenarwan Hery, S.Si.,M.Kes. (Kepala Museum), Adi Guzali (Duta Museum), Ida Suryani, dan F.X. Soegiyo Pranoto. Kegiatan anjangsana ini bertujuan sebagai ajang sharing dan merintis kerjasama antarlembaga, khususnya dalam program kegiatan ekonomi kreatif, yakni pembuatan souvenir. Semoga kunjungan ini dapat menguatkan jalinan kerjasama antara Museum Biologi dengan Taman Wisata Candi Borobudur Magelang.

[sangar-slider id=1237]

Kunjungan Tim Herbarium Celebense Universitas Tadulako ke Museum Biologi

Kegiatan Jumat, 8 Desember 2023

Unit Penunjang Akademik Sumber Daya Hayati Sulawesi (UPA SDHS), Herbarium dan Musium Zoologicum Celebense, Universitas Tadulako melakukan kunjungan ke Museum Biologi Fakultas Biologi UGM pada 7 – 8 Desember 2023 .  Hal itu dilakukan, sehubungan dengan studi banding dalam rangka rencana pembuatan dan pendirian museum pendidikan sekaligus pelatihan singkat pembuatan spesimen herbarium basah. Tim dari Museum Celebense Universitas Tadulako, yaitu Dr. Ir. Fadly Y Tantu, M.Si. (Kepala UPA Sumberdaya Hayati Sulawesi) dan Hasan Ajalia, S.Pt. (Staf Kuartor Herbarium UPA Sumberdaya Hayati Sulawesi). Kunjungan ini didampingi oleh Kepala Museum Biologi, Soenarwan Hery, Poerwanto, S.Si.,M.Kes. dan 2 orang staf, yakni Ida Suryani, S.S. dan F.X. Sugiyo Pranoto, S.Si. Selama kunjungan dilakukan sharing knowledge, observasi layanan kunjungan dan fasilitas pendukung, serta pelatihan pembuatan herbarium basah. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi ajang silaturahmi dan akan berlanjut untuk memberikan kebermanfaatan bersama.

[sangar-slider id=1227]

Perkuat Program Publik, Museum FKMK Hadiri FGD Bertema Strategi Pengembangan Program Publik di Museum

Berita Senin, 20 November 2023

Selasa, 14 November 2023 Forum Komunikasi Museum Kota (FKMK) Yogyakarta atas fasilitasi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta menyelenggarakan FGD Permuseuman denga tema “Strategi Pengembangan Program Publik di Museum” bertempat di Alana Hotel. FGD ini dihadiri oleh museum-museum yang ada di Kota Yogyakarta sejumlah 19 museum. Staf Museum Biologi, FX Sugiyo Pranoto dan Ida Suryani ikut pada FGD tersebut. FGD ini menghadirkan 2 orang narasumber, yaitu Lukman Yoga Suryawan. S.Si. (Analis Rencana Program dan Kegiatan Taman Pontar) dan Dra. RR. DS Nugrahani, M.A. (Kepala Museum UGM).

Bapak Lukman mengatakan perlunya penguatan program publik melalui 4 cara yakni pengembangan SDM, diversivikasi program kegiatan, optimalisasi media informasi, dan pengembangan kerjasama. Sementara DS Nugrahani menyampaikan bahwa program publik di museum dapat berupa kegiatan yang terkait koleksi, pameran, dan juga penelitian. Dari FGD ini museum-museum di Kota Yogyakarta diharapkan dapat mengembangkan program publik, misalnya dengan memberdayakan MBKM mandiri dan program publik yang bersifat free dengan kolaborasi dengan pihak lain.

 

[sangar-slider id=1217]

Tingkatkan Layanan Prima, Museum Biologi Ikuti FGD Pemutakhiran Daya Tarik Wisata Kota Yogyakarta

Berita Senin, 20 November 2023

Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta menyelenggarakan FGD Pemutakhiran Daya Tarik Wisata pada Jumat, 17 November 2023 di Royal Darmo Hotel. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai DTW (Destinasi Tujuan Wisata) yang ada di Kota Yogyakarta yang terbagi dalam 6 kluster, antara lain wisata sejarah, wisata budaya, wisata religi, wisata belanja, wisata pendidikan, dan kampung wisata. Museum Biologi masuk dalam kluster wisata pendidikan. Staf Museum Biologi, Ida Suryani ikut dalam FGD tersebut.  Tim kajian layanan prima daya tarik wisata Kota Yogyakarta memaparkan hasil kajian sebagai bahan evaluasi untuk mengukur tingkat kepuasan wisatawan, kualitas sarana prsarana, dan juga SOP (standard operational procedure). Hasil kajian Museum Biologi memperoleh kategori B dengan peningkatan nilai skoring dari 52 menjadi 56 dan masuk dalam 10 besar urutan daya tarik wisata berstandar layanan prima di Kota Yogyakarta

Setelah hasil kajian tersebut keluar, Dinas Pariwisata berharap DTW di Kota Yogyakarta selalu berinovasi (mengembangkan storytelling, activity sesuai tema museum, pemandu bersertifikat kompetensi, dsb.) dan dapat bervariasi dalam memberikan layanan jasa wisata dengan keunikannya masing-masing. Selain itu, hasil kajian seyogyanya dapat ditindaklanjuti, baik oleh Dinas Pariwisata maupun pengelola DTW untuk meningkatkan layanan prima di DTW.

[sangar-slider id=1210]

Museum Biologi Fakultas Biologi UGM Menerima Apresaiasi Keterawatan dan Kelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya (WBCB)

Berita Rabu, 1 November 2023

Museum Biologi terletak di Jalan Sultan Agung No. 22 Yogyakarta pada awalnya merupakan rumah opsir Belanda. Bangunan ini didirikan pada tahun 1890 dan  dialihfungsikan sebagai museum pada tanggal 20 September 1969.  Bangunan ini sampai sekarang masih digunakan sebagai museum yang mengoleksi berbagai jenis spesimen hayati yang pengelolaannya berada di bawah Fakultas Biologi UGM Yogyakarta.

Tim TACB, Sektiadi, S.S. M.Hum. mengungkapkan bahwa bangunan ini memiliki khas gaya indis atau kolonial yang berdenah  persegi panjang, memiliki teras di depan dan belakang. Pada kedua teras ini terdapat tiang bulat dengan ornamen dan pagar besi berornamen (balustrade). Atap bangunan berbentuk perisai (limas) membujur utara-selatan sesuai dengan panjang bangunan dengan atap menggunakan genteng. Dinding sebagaimana bangunan kolonial lainya berupa tembok berplaster dengan profil (moulding) pada bagian atas. Pintu dan jendela berbentuk persegi dengan kusen kayu dan memiliki bovenlicht pada bagian atas membentuk kisi berbentuk panah. Penilaian ini didampingi oleh Mulyanto, ST, MM, Wakil Kepala Museum Biologi dan staf Museum Biologi.

Museum Biologi mendapat apresiasi kelestarian dan keterawatan sebagai Warisan Budaya dan Cagar Budaya (WBCB) dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta karena bangunan Museum Biologi masih terawat dan dapat memperlihatkan ciri khas bangunan indis, ungkap Soenarwan Hery Poerwanto, Kepala Museum Biologi UGM.

Ida Suryani, penanggung jawab koleksi tumbuhan mengungkapkan lebih lanjut bahwa Museum Biologi yang menempati bangunan cagar budaya menjadi nilai plus, tidak hanya koleksi museum, tetapi juga bangunan museum sebagai salah satu bangunan cagar budaya (BCB) di Kota Yogyakarta.

Apreasiasi ini diberikan langsung oleh Pejabat Wali Kota Yogyakarta, Bapak Singgih Raharjo terhadap 20 pelestari WBCB dan 20 seniman&budayawan sebagai bentuk penghargaan dan ucapan terima kasih kepada masyarakat yang telah turut berperan aktif dalam pelestarian WBCB. Apresiasi kelestarian dan keterawatan WBCB tahun 2023 dilaksanakan pada hari Selasa, 31 Oktober 2023 di Hotel Harper Malioboro Yogyakarta.

[sangar-slider id=1196]

Mengenal Hiu, Si Kepala Martil

Publikasi Senin, 25 September 2023

Hiu memiliki banyak spesies. Salah satu yang paling mudah dikenali adalah hiu martil (Sphyrna spp.). Hal ini dikarenakan bentuk kepalanya yang khas, yaitu pipih dan berbentuk martil. Hiu martil memiliki panjang 2 – 6 meter dengan kepala bagian depannya sangat rata dan melebar sehingga berbentuk seperti martil serta dilengkapi 2 sirip punggung dengan sirip ekor sangat tidak simetris, namun cuping bawahnya memisah.

Hiu martil tergolong dalam predator agresif pemakan ikan, cumi-cumi dan udang. Ikan hiu martil hidup di kawasan perairan hangat sepanjang garis pantai dan paparan benua. Ikan hiu martil juga memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut sebagai predator puncak. Bentuk kepala ikan hiu martil yang menyerupai martil memudahkannya untuk berbelok. Ikan hiu martil juga memiliki pori sensor electrolocation yang disebut ampullae of lorenzin. Dengan menyebarkan reseptor di berbagai area, hiu martil dapat mencari mangsa dengan lebih efektif. Hiu juga mampu mendeteksi sinyal listrik setengah miliar volt. Kepala yang berbentuk seperti martil juga memberikan keuntungan berupa area penciuman yang lebih luas, meningkatkan potensi menemukan partikel di air sedikitnya 10 kali dibandingkan dengan hiu ‘klasik’ lainnya.

Hiu martil sendiri memiliki 9 (sembilan) spesies yang tersebar di seluruh dunia, 3 (tiga) spesies di antaranya tercatat Apendiks II CITES sebagai hewan langka. Pertama, hiu martil jenis Sphyrna lewini, yang merupakan jenis yang paling umum ditemukan di Indonesia, dikenali dengan bentuk ujung kepala yang sedikit melengkung dengan adanya lekukan di bagian tengahnya dan sisi samping di belakang mata berbentuk cekung. Kedua, hiu martil besar (S. mokarran) memiliki ujung kepala yang relatif rata dengan sedikit lekukan di tengahnya dan bagian sisi samping di belakang mata terlihat relatif lurus. Ketiga, hiu martil halus (S. zygaena) memiliki bentuk ujung kepala yang melengkung tanpa ada lekukan di bagian tengahnya, sedangkan bagian sisi samping di belakang mata terlihat melengkung ke belakang.

[sangar-slider id=1192]

Program Bina Lingkungan Wujudkan Kepedulian Pengelola Museum Biologi Dalam Rangka DIES Natalis ke 54

Kegiatan Rabu, 20 September 2023

Museum Biologi Fakultas Biologi UGM genap berusia 54 tahun tanggal 20 September 2023. Dalam rangka rangkaian acara DIES NATALIS ke 54 ini salah satu kegiatanya adalah dengan Program Bina Lingkungan, yaitu berupa pemberian bingkisan ke masyarakat di lingkungan sekitar Museum Biologi UGM, kegiatan ini dilaksanakan pada  tanggal 18 September 2023, Kegiatan ini dibagikan sejumlah 27 bingkisan, seperti tukang parkir dan PKL. Kegiatan sosial tersebut merupakan salah satu program bina lingkungan sebagai bentuk kepedulian dengan lingkungan dan bertujuan untuk menjalin hubungan yang baik antara pengelola museum dengan masyarakat sekitar. Melalui kegiatan bina lingkungan, diharapkan semakin banyak orang yang mempunyai rasa handarbeni untuk museum dan ikut serta menjaga kebersihan serta keamanan museum sebagai tempat wisata edukasi.

[sangar-slider id=1168]

Tiga Perbedaan Fisik Spesies Orang Utan

Uncategorized Selasa, 29 Agustus 2023

Orang utan banyak dikenal sebagai primata yang berasal dari Pulau Kalimantan. Padahal di Indonesia sendiri terdapat 3 spesies, yaitu: Kalimantan) (Pongo pygmaeus), Sumatera (Pongo Abelii) dan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Meskipun tergolong dalam satwa yang dilindungi oleh hukum nasional, berdasarkan UU nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya tidak cukup mampu menjaga jumlah populasi orang utan. Kini, ketiga spesies tersebut berstatus ‘sangat terancam punah, oleh International Union for Conservation Nature (IUCN) dalam Red Data List tahun 2016. Meskipun statusnya sama, dikutip dari WWF Indonesia status kepunahan spesies Sumatera yang paling terancam punah di antara dua spesies yang ada di Indonesia.

Perlu Sahabat Museum ketahui perbedaan fisik serta karakteristik khusus antara tiga spesies orang utan yang ada di Indonesia. Pertama, Orang utan Sumatera (Pongo abelii). Memiliki ciri fisik kantung pipi yang lebih panjang pada orang utan jantan. Rentang tubuhnya bisa mencapai 1,25 meter sampai 1,5 meter dengan berat berkisar dari 30-50 kg diselimuti bulu berwarna coklat kemerahan. antan dewasa umumnya penyendiri sementara para betina sering dijumpai bersama anaknya di hutan. Rata-rata setiap kelompok terdiri dari 1-2 orang utan dan kedua jenis kelamin mempunyai daya jelajah sekitar 2-10 kilometer yang banyak bertumpang tindih tergantung pada ketersediaan buah di hutan. Setelah disapih pada umur 3,5 tahun, anak orang utan akan berangsur-angsur independen dari induknya setelah kelahiran anak yang lebih kecil. Orang utan Sumatera betina mulai berproduksi pada usia 10-11 tahun, dengan rata-rata usia reproduksi sekitar 15 tahun.

Kedua, Orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Memiliki ciri fisik rambut panjang dan kusut dengan warna merah gelap kecoklatan, dengan gradasi warna pada wajah dimulai dari merah muda,merah hingga hitam. Berat badan kisaran 50 kg-90 kg dengan tinggi badan 1,25 meter sampai 1,5 meter demikian merupakan mamalia arboreal terbesar.dilengkapi lengan yang panjang serta jakun yang besar menjadi ciri khas spesies ini untuk mengeluarkan suara yang besar untuk memanggil rombongan orang utan.

Ketiga, Orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).  Secara genetik spesies ini berbeda dari spesies orang utan lainnya. Orang utan tapanuli memiliki bantalan pipi mirip orang utan borneo namun bentuk badannya lebih menyerupai orang utan sumatera. Bulunya juga lebih tebal dan keriting dengan kumis dan jenggot yang menonjol. Bantalan pipinya cenderung datar dan ditumbuhi rambut halus berwarna pirang. Dengan tinggi jantan mencapai 137 centimeter dengan berat 70-90 kilo gram sedangkan betina memiliki tinggi 110 centimeter dengan berat 40-50 kilogram.

Makanan orang utan sekitar 60% adalah buah-buahan yang terdiri dari nangka, leci, manga durian dan lain-lainnya. Selain itu, orang utan juga mengkonsumsi pucuk daun, serangga, kulit pohon, telur hingga vertebrata kecil. Fakta unik lainnya adalah orang utan tidak hanya mengkonsumsi air dari buah-buahan tetapi juga lubang pohon bahkan diketahui Orang utan Sumatera mengambil buah-buahan di pohon menggunakan ranting kering. Hal tersebut menunjukkan tingkat intelegensi yang dimiliki Orang utan Sumatera.

 

Dalam rangka memperingati Hari Orang Utan sedunia pada tanggal 19 Agustus kali ini. Marilah bersama-sama kita lebih terbuka terhadap seluruh makhluk hidupn yang ada di sekitar kita. Ambil langkah untuk melindungi dengan tidak terlibat dalam aksi perburuan liar, penebangan pohon, dan tindakan yang membahayakan tempat tinggal orang utan.

 

Oleh: Adi Guzali (Duta Museum untuk Museum Biologi UGM)

[sangar-slider id=1159]

Kerja Praktik di Museum, Mahasiswa Biologi Kurasi Koleksi Simplisia dan Biji Tanaman

Kegiatan Jumat, 11 Agustus 2023

Layanan museum tidak hanya tamu kunjungan wisata museum saja, tetapi juga tamu kedinasan, fasilitasi komunitas yang berkegiatan, pelajar/mahasiswa yang melakukan magang, penelitian ataupun kerja praktik. Museum Biologi terus meningkatkan kualitas layanan, di antaranya layanan kegiatan magang/penelitian/kerja praktik terbuka bagi pelajar SMK/SMA sederajat dan mahasiswa universitas. Untuk optimalisasi waktu dan sesuai sasaran maksud dan tujuan kegiatan, museum menyediakan borang kegiatan dengan pilihan bidang zoologi dan botani, di mana masing-masing bidang maksimal 2 (dua) orang setiap periode kegiatan.

Pada tanggal 10 – 31 Juli 2023 dua orang mahasiswa Prodi Biologi Fakultas Biologi UGM, Laksita Chesarina dan Laura Wirakana Rokhmat telah menuntaskan rangkaian kerja praktik di Museum Biologi selama 3 minggu. Mahasiswa tersebut kerja praktik pada bidang botani dengan judul kerja praktik “Kurasi Koleksi Biji dan Simplisia Tanaman di Museum Biologi”. Dengan adanya mahasiswa kerja praktik di Museum Biologi, diharapkan adanya take and give, yaitu saling memberi dan menerima ilmu pengetahuan dari kedua belah pihak sehingga dapat memberikan manfaat lebih.

[sangar-slider id=1150]

Museum Biologi Selenggarakan Pameran Tema “Bunga Uborampe”

Kegiatan Kamis, 10 Agustus 2023

Indonesia dikenal dengan keragaman budayanya. Salah satu satunya, budaya Suku Jawa dengan upacara-upacara adat yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia, seperti mitoni, pernikahan, kematian, dan sebagainya. Dalam upacara adat tersebut menggunakan bunga atau kembang sebagai salah satu perlengkapan upacara. Setiap bunga memiliki hubungan simbolis dan mengandung nilai-nilai filosofi tinggi yang penting untuk dilestarikan sebagai bentuk warisan budaya Jawa yang bersifat intangible. Jenis bunga yang biasanya digunakan sebagai uborampe dalam upacara Jawa di antaranya mawar, melati, kantil, kenanga, dan sedap malam.

Museum Biologi menyelenggarakan pameran tema di ruang pamer 2 pada bulan Juli-September 2023 dengan tema “Bunga Uborampe Upacara Jawa”, tentu bukan tanpa alasan. Pameran ini bertujuan mengedukasi masyarakat luas tentang bunga uborampe yang masih sering adanya miss persepsi padahal setiap bunga memiliki nilai-nilai filosofi kehidupan. Selain itu, untuk memperkenalkan potensi budaya yang harus terus dilestarikan kepada generasi muda. Dalam pameran tersebut disajikan koleksi herbarium (awetan kering tumbuhan) tanaman bunga yang dipergunakan dalam upacara di Jawa.

[sangar-slider id=1133]
12345…9
Universitas Gadjah Mada

Museum Biologi
Universitas Gadjah Mada
Jl. Sultan Agung No 22 Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta

 (+62274) 376740

 

0821-3488-9187

 

 mus_bio@ugm.ac.id

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY